surat untuk mama
January 21, 2006
Assalammu ‘alaikum mamaku tercinta,
Peluk cium kangenku untukmu dan papa. Ma, apa kabar mama dan papa? Semua sehat
kan
? Tolong titipkan salamku juga untuk adik-adikku, semoga mereka masih dan terus jadi anak-anakmu yang berbakti. Dan semoga kalian semua terus berada dalam lindungan Allh SWT. Ma, aku sudah menerima
surat
mama yang terakhir beserta dengan bingkisan yang mama pos-kan. Terima kasih ya Ma, atas sumber ilmu yang mama kirimkan, aku telah membacanya hingga tuntas. Dan cukup memberikan pencerahan bagi batinku.
Dalam buku yang mama kirimkan aku belajar sesuatu, yang sebetulnya telah bertahun-tahun lalu aku lihat dalam diri papa dan mama namun sayang hal itu tak pernah aku renungkan dan mengerti artinya. Namun kini aku paham Ma. Dalam kurang lebih tiga tahun usia pernikahanku, tak sekalipun aku menerapkan apa yang pernah kulihat dari kalian. Mungkin karena aku hanya melihat ilmu di permukaannya saja dan tidak memaknai arti yang sesungguhnya. Lihatlah Ma, aku dan Mas Ardi, apa yang kami tidak miliki? Apa yang tidak dicukupkan untuk kami? Kami berpendidikan tinggi, bekerja, berpenampilan nyaris sempurna dan secara materi pun kami berkecukupan. Sama seperti kalian ataupun orangtua Mas Ardi. Lalu apa yang salah dengan pernikahan kami? Kenapa setelah menikah aku merasa menyesal? merasa salah memilih? Merasa bahwa pernikahan ini hambar.
Ternyata jawabannya ada dalam buku itu, Ma. Akhirnya aku menyadari, bahwasanya ketika aku berkeinginan menikah atau pun akhirnya memutuskan menikah dengan Mas Ardi semuanya tidak berlandaskan pada kecintaanku pada Allah, dan tidak berlandaskan pada niat yang tulus ikhlas. Yah, seandainya waktu itu aku menuruti kata-kata Mama untuk bertahajud, untuk bersujud dihadapan Allah dan meminta pertolongan-Nya, mungkin Allah akan memudahkan jalan yang kini kami lalui bersama. Seharusnya, pernikahan kami tidak hanya berlandaskan pada cinta dan dihalalkan hanya dengan ijab-kabul saja, melainkan sebelum kami memutuskan mengarungi kehidupan ini bersama, kami harus memahami apa yang disebut pernikahan dan tanggung jawab dari suami dan istri dalam hubungan itu. Kami tahu kami harus membangun sebuah hubungan yang sakinah, mawadah dan warohmah. Namun kami tidak pernah memahami apa itu sakinah, apa itu mawadah dan apa itu warohmah.
Mama, aku membaca buku itu bersama Mas Ardi, dan kami berkesimpulan bahwa jika kami masih ingin menyatukan dan menguatkan hubungan ini, maka kami harus mulai dari awal lagi, dan itu berarti kami harus meluruskan niat kami. Kini, kami sedang mempersiapkan diri kami untuk lembaran baru dalam pernikahan kami, yang tidak semata-mata kami lakukan bagi diri kami namun juga bagi anak-anak kami, sehingga kami berdua dapat mempertanggung jawabkan segala perbuatan dan perkataan kami pada yaumil hisab.
Dari buku itu aku mulai kembali belajar apa arti menjadi seorang anak, menantu, istri dan seorang ibu. Aku mulai menanam kembali nilai-nilai yang pernah kalian berikan padaku mengenai peranan seorang istri. Dan Ma, tidak hanya aku, mas Ardi juga. Kami berusaha berubah Ma. Mohon doa restu kalian supaya daya uapaya kami tidak menjadi hal yang sia-sia.
Memang benar yang mama dan papa pernah katakan bahwa diri kita bukanlah milik kita ataupun milik orang yang mencintai kita, melainkan hanya milik Allah semata. Dan pernikahan bukan semata-mata karena cinta atau keindahan duniawi semata, melainkan ladang ibadah dan amal bagi kita untuk kita petik dan nikmati buahnya di hari akhir. Mama, mohon maafkanlah putrimu ini. Maafkan kesalahan, kata-kata ataupun perbuatan yang pernah kulakukan yang membuat hati mama atau papa terluka. Ampunilah segala kesombongan dan sifat buruk yang pernah aku lakukan dihadapan kalian yang menyebabkan hati kalian tersakiti. Dan terima kasih Ma, atas segala kesabaran dan maaf bagi perbuatanku itu.
Ma, aku mohon, teruslah membimbing kami, karena kami memang masih membutuhkan nasihat dan bimbingan kalian. Mudah-mudahan, Allah terus memberikan banyak nikmat kesehatan bagi kita semua hingga kami dapat sebanyak-banyak berbakti pada kalian, walapun kami tau tak ada harta didunia ini yang bisa membuat kami membalas seluruh darah dan keringat yang pernah kalian cucurkan demi kami, anak-anak kalian. Namun semoga kami dapat menfaatkan waktu kami sebaik-baiknya didunia ini. Terima kasih mama, terima kasih papa, kami selalu mencintai kalian.
Kami yang mencintaimu,
Chiko dan Ardi
Wassalam mu’alaikum Wr.Wb.
Short Stories | Comment (0)