Benarkah aku sudah dewasa?
Pernah ga kita berfikir, apa sih yang disebut dewasa?
Kadang kita mengidentikkan dewasa dengan umur yang lebih tua, atau sifat dan tindak tanduk yang terlihat melebihi umur yang seharusnya, tapi apa benar semua itu?
Buat gue, dulu, yang gue anggap dewasa adalah ketika gue bisa lepas dari ortu gue, bikin keputusan dalam hidup sendirian, bisa cari duit dan ngidupin diri gue sendiri, dan bisa bersikap seperti temen2 yang usianya jauh diatas gue.
Tapi ternyata, banyak orang yang usianya jauh lebih tua bertindak seperti layaknya anak-anak. Jealousy among co-worker sampe-sampe tega memfitnah bahkan menjatuhkan team work sendiri hanya demi kedudukan dan uang. Atau, sok-sok-an hidup mandiri dengan nge-kos/ngontrak tapi ujung-ujungnya nyari nasi kerumah atau menitipkan baju kotor untuk dicuciin sama simbok yang notabene digaji sama ortu, parah-parah minjem duit buat bayar kontrakan/kos-an. Yang lebih lucu lagi, nekat nikah tanpa restu ortu dengan dasar gue kan udah gede, udah dewasa, lebih berhak ngatur hidup dan bikin keputusan sendiri tapi akhirnya cerai dengan umur pernikahan cuma tiga bulan ampe setaunan doank.
Gila, gue ga pernah ngerti kenapa yang kayak gini bisa terjadi, tapi gue sedikit bersyukur, walopun gue ga taat-taat banget sama bo-nyok gue (seringan ‘debat’ malah!) hal-hal diatas belum pernah (dan semoga ga akan pernah) terjadi.
Nah, kenapa kita ngalor-ngidul ngomongin hal ini, well ada kaitannya sama post gue tadi siang, thx to ananto yg tanpa kesengajaan, mengirimi gue artikel yang cukup membuat gue berfikir selama jam makan siang (secara abis tu boz gue ngasih ‘order’ kerja lagi heheheh*___*)
Ya seperti yang bisa diliat di ‘renungan yang dalem buat gue saat ini’ pernikahan bukanlah sekedar penyatuan dua orang untuk melegalkan pelampiasan nafsu, bukan sekedar menyatukan cinta tapi juga tentang kedewasaan kita. banyak orang yang salah mengerti kenapa menikah itu salah satu faktor penyempurna agama. Menurut mereka, ‘ ah yang penting kan bukan zina, udah muhrim kok.’ Tapi tidak menyadari betapa beban berat yang mereka pikul dan harus mereka tanggung bersama. Hanya dengan mahar seperangkat alat sholat pun beban pernikahan itu sudah berat karena si suami harus berkomitmen dan berkewajiban membimbing istrinya melakukan ibadah dengan benar dan si istri pun berkewajiban mengikuti petunjuk suaminya dengan ikhlas dan ridho.
Gue emang bukan ustadjah yang khatam Qur’an atau hapal hadits jadi ga bisa ngasih dalil-dalil, yang gue tulis ini cuma melalui perenungan dan berkat teman2 yang biasa ngasih input ke gue.
well, it’s up to us gimana melihat pernikahan itu sebagai sebuah impian ataukah sebuah beban.
But the point is, gue sekarang juga udah mulai merubah mind setting gue dari melihat pernikahan itu sebagai sesuatu yang harus diburu karena gue mo ngebahagiain ortu, atau karena iri ngeliat kebahagiaan temen2 gue dengan baby-baby dan suaminya, gue skarang lebih ngeliat pernikahan sebagai sebuah pertanyaan, Have I be ready to be involved within a marriage?
guys, ini renungan yang dalem buat gue saat ini
Assalamualaikum wr wb
Jodoh dan Kedewasaan Kita
Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun mereka melangkah,
pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang
pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?
Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu
bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal.
Pada
mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti
permasalahan itu sendiri.
Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan ?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.
Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat
superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali
menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu,
menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.
Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India , Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu?
"Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286).
Di balik
fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.
Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu
akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati
seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita
kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan
lapang dada.
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun
bertanyalah, sudah dewasakah aku?
"Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami
memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah
memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak
tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari
sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id
Alkhudzri r.a) "
Wallahu a’lam bisshawaab
wassalam. (Thx to Ananto yang udah berbaik hati mem-forward pesan ini ke email gue, semoga bisa bermanfaat bagi yang lain, amin.)
Weblogs | Comment (0)