Penantian yang akan jadi sangat panjang
Gue nulis post ini sambil denger lagunya Padi yang judulnya Menanti Sebuah Jawaban. Lagu ini udah lama banget gue suka tapi baru dapet mp3nya baru2 ini.
Dan emang coincident bgt sama keadaan gue sekarang. Jujur gue mang tengah menanti jawaban atas masalah2 gue…
Oya, today gue pergi kesalah satu mal yang ada di utara jakarta… bareng temen gue Iko buat nyari sensei untuk pengobatan, setelah gue dapetin tempat dan tanya2 tentang biayanya, kita balik, tapi Iko sempet tanya kenapa gue segitu ngebetnya nyar tu sensei… gue bilang aja.. "ko, lo liat kan tuh sensei jago apa… makanya gue kesitu, paling ga gue bisa ngobatin salah satu penyakit gue yang ga bisa diobatin secara medis…" well ini memang kaitannya sama masalah perasaan. Udah gue bilangkan gue ni lagi ter-OBSESI sama seorang laki2. Gue ngerasa kalo ini udah jadi penyakit. Gue emang ga pernah segitu sukanya (kalo gue ga bisa bilang cinta karena sampe skarang gue juga masih belum ngerti definisi cinta yang sesungguhnya..). earlier this day, gue hunting ke glodok cari musik yang genrenya dia banget… sumpe gue ga niat karena tadinya ka cuma nemenin iko aja cari TV dan DVD player, trus ketika kita nemu toko yang muterin satu lagu jazz yang sumpe gue ga inget judulnya cuma tau penyanyinya doang gue langsung narik iko untuk masuk ke toko itu n hunting deh… Benerkan ini penyakit.. gue ga bisa mikir.. otak gue buntu… gue takut perasaan ini sama dengan ilusi, alias pszikofernia.. dan gue malah jadi masalah buat dia, kaya dulu lagi padahal gue baru bisa baikan lebaran kemaren. So gue nekad ngajak iko hari itu juga buat ke jak-ut nyari sensei yang setahu gue bisa nyembuhin penyakit nih,tough in consequence, gue bakalan lupa ingatan tentang dia.. Well it would be just fine right? secara ini cuma perasaan gue… karena toh dia mungkin tidak merasakan hal yang sama… Gue rela kok kalo gue harus lupain perasaan gue ke dia, lupain semua ingatan tentang dia supaya dia ga terganggu sama gue… Karena sebetulnya dari awal gue mang ga mungkin gapai cintanya (bahkan Etek gue yang asli sumatera bilang NO). Tomorrow, gue bikin janji sama sensei tu, kebetulan dia ada di jakarta so gue bisa langsung pengobatan.. biar deh… paling ga gue ga brokis kali ni
karena ini dosa termanis untuk sebuah penantian yang panjang.
Aku tak bisa luluhkan hatimu… dan aku tak bisa menyentuh cintamu
sepenuhnya aku ingin memelukmu
mendekap penuh harapan tuk mencintaimu
setulusnya aku akan terus menunggu
menanti sebuah jawaban tuk memilikimubetapa luruh rindu menusuk hatiku
semoga kau tau isi hatiku
dan semoga seiring waktu yang terus berputar
aku masih terus hanyut dalam mimpiku(PADI-Menanti sebuah jawaban)
mungkin jawaban itu tidak pernah ada…..terkubur bersama pasir dilautan luas.
Weblogs | Comment (0)Redemption II
My life is redemption…
PS: maaf Redemption part I ga gue publish dulu.. karena bad timing. Gue mau berkonsentrasi sama masalah kesehatan gue dulu otre… \V/(^ ___^) peace
Weblogs | Comment (0)ReBorn
Banyu biru… Film yang baru gue tonton for the very first time ini (gila basi bgt yak?) ternyata memang mengharu biru…
Last night, I was making up with one of my friend (a guy). Finally, I cleared things up w/ him. Wait, it’s just a part of my story… What I’m about to tell is I guess 4JJ is giving me cues to solve my problems through what I’ve been experienced for the last week and what I’ve seen and hear just now (including Banyu Biru)
Gue baru aja tersentak sama alur tutur cerita si Banyu ini. Bagaimana kita melihat masalah yang kita alami dari kacamata orang lain… for the very first time gue inget kata2 temen gue semalem… katanya, “kaya orang lain ga punya masalah aja.” Yah, masalah yang gue alami emang sebetulnya bukan masalah besar buat orang lain maupun untuk gue sendiri, hanya gue rasa gue terlalu hiperbola aja melihatnya, karena ini bukan yang pertama gue tahu, gue lihat, tapi memang yang pertama gue rasa. Rasanya hancur mengetahui bahwa orang yang kita sayangi, hormati setelah lama gue berusaha untuk memperbaiki hubungan kami ternyata memang menyimpan rahasia yang bikin orang lain sakit hati. Gue bisa mahfum kalau 2nd puberty happens to anyone, tapi apa perlu membina hubungan rahasia yang sewaktu2 dapat diketahui orang lain… Bagaimana kalau yang membongkar rahasia itu orang lain dan menyakiti orang yang kita sayangi.
Beruntung gue sempet bertanya sama ustad Imam, tentang masalah ini… dan memang walau gue pro pada poligami, gue ga sembarang pro. Banyak alasan yang membuat gue pro pada poligami tapi saat itu, gue ternyata ga memikirkan bagaimana perasaan orangtua gue sendiri seandainya gue bener2 melakukan poligami itu. Dan yang sekarang muncul dipikiran gue, apa yang ‘ANAK’ gue pikirkan (seandainya gue mendapat rahmat dan kepercayaan itu dari 4JJ) jika IBU-nya di ‘madu’ atau menjadi ‘madu’ perempuan lain. Masalah ini yang terjadi dihidup gue sekarang, pernah gue sikapi dengan cuek, gue dulu berfikir kalo gue udah ngelabrak perempuan L*%$#! itu, things will be better, or worse thought, I end up behind bars after sending the other woman to hell.
Tapi mungkin ini pikiran jahat ketika kita menyikapi masalah bukan dengan akal sehat, ketika kita ga kenal yang namanya “PASRAH” (sorry Do, boleh kan gue kutip kata2 loe), kita kaya ga kenal Tuhan aja. Yah, seharusnya gue bersyukur, ini tandanya gue sedang diuji keimanan gue. Selama ini gue hanya pandai bersyukur karena selama ini semua dimudahkan buat gue (walo ga semua), kaya sekolah gue (bandel amit2 tapi masih juga bisa lulus dengan IP diatas 3,00), kerjaan yang ga pernah putus2nya dateng walo gue ga pernah ngerasa ngirim lamaran (kecuali PNS, I did my hardwork there), sahabat2 yang walo ga selamanya stand beside me tapi pernah menjadikan gue bagian penting dari hidup mereka (including my late friends (alm.) Nina Winda dan Niek Niek Komala yang selalu memberi semangat buat gue biar bisa jadi fighter sejati), dan kemudahan duniawi lainnya yang diberikan 4JJ sama gue.
Dan kini, 4JJ mau melihat apakah gue juga akan pandai bersyukur sama 4JJ seandainya kemudahan itu diambil dari gue, dimulai dari :
1. Pacar2 yang silih berganti tapi ga ada yang ngajak nikah (dan terakhir ada yang ngajak nikah tapi minta untuk berzina duluan.. very tempting but sorry still have consciousness ‘bout that);
2. Perasaan iri yang timbul ketika satu persatu sahabat gue nikah, mengandung dan punya anak (ngliat Arin dan Nayla bikin gue pingin nimang seorang bayi mungil dan mendekapnya erat… makanya gue benci banget kalo ada perempuan yang ga bisa ngurus bayi apalagi ngebuang ato ngaborsi bayi);
3. Jatuh cinta bertepuk sebelah tangan (well khusus untuk ini, gue bingung harus bilang apa, karena rasanya inilah pertama kali gue ngerasa betul2 jatuh cinta, find the right guy, bersedia berkorban untuk dia sampai gue tahan nungguin dia ol setiap hari walo gue pake invisible mode on, karena dia bilang he needs space, bersikap buruk didepan dia supaya dia senang, nongkrongin blognya tiap hari cuma membaca setiap buah pikirannya, cuma untuk satu alasan: pengen nyelamin pikirannya/pengen tau cara dia berfikir, trus kenalan sama semua teman-temannya untuk cari tau seperti apa dia sebelum gue bertemu dia, well mungkin untuk semua ini gue bisa bilang gue ter-OBSESI, hihihi akhirnya gue kaya si Rahmi {ingat Cintapuccino} yang ngelakuin hal2 mirip ini buat sang Nimo); dan
4. Hubungan keluarga yang tinggal nunggu waktu bomnya untuk meledak.
Semua ini kembali sama gue sendiri, sama seperti Banyu yang mengatakan bahwa semua masalah itu akarnya adalah diri kita sendiri…
Cuma gue ga mau jadi Banyu, yang untuk menyadari hal itu, gue harus jadi penderita pszicofernia (hah, apalah namanya I can’t never spell it right!) pokoknya ga mau jadi orang yang ga bisa ngebedain kenyataan dan ilusi dan terjebak dalam ilusinya sendiri. Gue harus cari jawaban atas semua masalah dan ujian ini dalam dunia nyata bukan dalam ilusi.
Pada saat itu, seandainya gue sudah memiliki semua jawaban itu, gue bisa membuat diri gue pantas untuk dicintai dan mungkin saat itu gue bisa berdiri dihadapan orang yang gue cintai dan berkata dengan tegas… “Aku pantas mendampingimu bukan karena aku mencintaimu semata atau karena merasa kamulah belahan jiwaku, tapi karena aku adalah orang yang siap berada disampingmu saat dunia memalingkan mukanya darimu, mengulurkan tanganku saat kamu terjatuh, memelukmu agar kamu dapat merasakan ketenangan dan orang yang siap menentukan nasibku bersama kamu.” Semoga…
Weblogs | Comment (0)Yang Datang Yang Pergi
Ini salah satu surat milis yang diforward sama one of my best friends, Jehan, buat mengingatkan gue, perhaps bisa jadi bahan renungan, nikmat 4JJI yang mana lagi yang kita ingkari….
Izzatul Jannah - Cahaya di atas Cahaya
Publikasi : 16-12-2003
Jam Dinding menunjukan pukul dua belas malam tepat. Entah kenapa
tiba-tiba aku terbangun. Kutatap dalam-dalam wajah istriku yang masih
lelap dalam tidurnya. Kubelai perlahan anak-anak rambut yang tergerai
didahinya. Kamu cantik Ratri…, bisikku perlahan.
Tanpa terasa, usia pernikahan kami sudah menginjak tahun yang ketiga,
tapi kami belum juga dikaruniai anak. Ya.. Allah karuniakan kepada kami
anak, seorang saja pun tak mengapa…, begitu jerit do’aku tiap malam
diatas sajadah. Tapi, entahlah hikmah apa yang tersembunyi dibalik semua
ini. Aku yakin, Allah menyimpan hikmah itu untuk kuketahui kelak. Ya,
itu Pasti!!
"Ratri.., bangun… shalat yuuk…" Kutepuk pipi istriku perlahan. Ia
menggeliat. Aku tersenyum saja. Mungkin ia masih lelah, seharian
mengurus tumah. Mengepel, memasak, mencuci, membersihkan rumah,
masih
ditambah lagi kesibukannya menulis di media cetak. Ah.. aku sayang
padamu Ratri…
Akhirnya, aku beranjak sendiri. Berwudhu dan kemudian tenggelam dalam
shalat malamku yang panjang. Dan selalu do’a itu yang aku dahulukan.
Rabbanaa lain aataitana shaalihan lanakunanna minasy syakiriin. Ya,
Allah jika Engkau memberi kami anak shalih, tentulah kami termasuk
orang-orang yang bersyukur.
Jam dinding berdentang tiga kali. Ketika aku menghabiskan tiga rakaat
terakhir witirku. Kulihat Ratri sudah ada dibelakangku dengan wajah
merajuk. Kutatap wajahnya dengan geli.
"Kamu kenapa? Mulutnya monyong begitu…??" godaku. Ratri semakin
merajuk.
"Si Mas mesti begitu…, nggak bangunin Ratri…" protesnya.
Aku tersenyum arif. "La Wong, kamu pulas banget tidurnya. Mana tega Mas
bangunin.., tadi nulis sampai jam sebelas ‘kan? Mosok baru tidur satu
jam sudah disuruh bangun lagi…"
"Iya deeh.., tapi nanti temani Ratri
muraja’ah Qur’an yaa…," pintanya
manja.
"Inggih, sendiko dawuh.., jawabku dengan logat Jawa yang kaku. Maklum
besar di Betawi! Ratri tertawa geli mendengar jawabanku. Serentak
jemarinya yang mungil beraksi menggelitik pinggangku.
"Ssst.., sudah ah, shalat sana, nanti keburu shubuh…, "elakku.
Ratri masih tersenyum sambil mengerjapkan matanya, lucu.
Sering kulihat Ratri termenung menatap ikan-ikan di aquarium kami.
Matanya binar menatap kosong ikan-ikan berwarna perak itu. Ia betah diam
tanpa ekspresi seperti itu.
"Sssst .., Muslimah kok hobi bengong, sihh…?" bisikku persis di
telinganya. Ratri tersentak kaget. Pipinya bersemu merah, malu ketahuan
melamun.
"Enngg….ngak kok, ini lho mas…, ikannya bertelur…, " katanya
perlahan.
"Ck… pura-pura, dari tadi Mas lihat matamu ngak berkedip, lama banget.
Itu bengong namanya, Non…," kuacak kepalanya gemas.
"Ikan saja bisa punya keturunan ya Mas…,
kita kapan?" tanyanya lirih,
hampir tak terdengar. Seketika mataku memanas. Leherku tiba-tiba
tercekat. Oh, Allah… ratri tersenyum manis, lalu mengamati lenganku
menuju meja makan. Tak lama kemudian ia kembali berceloteh menceritakan
aktifitasnya seharian. Ah, Ratri…. Ratri…
Ketika pernikahan kami menginjak tahun kedua, kami sudah memeriksakan
diri secara intensif kedokter kandungan. Hasilnya, kami berdua normal!
Dokter cuma menyuruh kami bersabar, berdo’a dan berusaha tentunya.
Yah.., barangkali kami berdua memang sedang diuji.
"Nikah lagi aja, Maaasss…," celetuk Ratri suatu kali.
Aku tersentak. Keturunan memang sangat kuharapkan. Tapi membagi cintaku
pada Ratri dengan wanita lain, meski itu dibolehkan dalam Islam, apa aku
sanggup?? Kucubit pipi istriku perlahan.
"Ngak takut cemburu?" tanyaku menggodanya.
"Cemburu khan manusiawi Mas…, Aisyah juga cemburu pada Khadijah, tapi
bukan cemburu masalahnya
Mas…, kalau Mas punya istri lagi, ‘khan Ratri
bisa ikut membesarkan anak dari istri Mas…," tuturnya panjang lebar.
"Kalau dia juga tidak bisa hamil?"
"Ambil istri lagi…"
"Kalau belum punya anak juga?"
"Ambil lagi…"
"Hussss…. sembarangan! !" protesku pura-pura galak. Kudekap kepala
mungilnya erat-erat.
Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang keempat. Umurku sudah dua
puluh delapan tahun. Uban dikepalaku sudah belasan jumlahnya. Ketika
menikah dulu, Ratri bilang ubanku ada enam lembar!! Dan sampai saat ini
kami belum dipercaya Allah untuk menimang seorang anak. Tapi aku masih
mencintai Ratri. Dan, tidak akan pernah pudar.
Wajah Ratri yang oval dengan hidung yang bangir dan mulut mungilnya
kelihatan merah berseri-seri. Kulihat ia membawa sebuah nampan yang
tertutup menuju kearah meja makan. Lalu ia menarik lenganku manja.
"Sini Mas…," ajaknya.
Aku menurut saja. "Happy fourth
anniversary. ..," katanya lembut. Mataku
berkaca-kaca. Perlahan kubuka nampan itu. Sebuah kue tart, romantis
sekali. Dan sebuah amplop, dengan logo sebuah klinik. Keningku berkerut.
Ketika tanganku bergerak hendak mengambil amplop itu, seketika Ratri
merebutnya.
"Makan dulu doooong…., " protesnya.
Aku cuma menggeleng-gelengka n kepala, sambil tersenyum. Tak urung kuraih
pisau lalu. "Bismillahirahmanir rahiim.., " kupotong kue tart itu. Ratri
tersenyum, ia kelihatan bahagia sekali. Kutengadahkan tanganku meminta
amplop itu. Ratri menggeleng. Makan dulu…, katanya. Kugaruk-garuk
kepalaku dengan gemas. Ni, anak bikin penasaran juga.
Setelah selesai menyantap potongan kue yang kumakan dengan dua kali
telan. Dan Ratri protes karenanya. Kurenggut amplop di tangannya. Dan
Subhanallah. .., Maha suci Engkau wahai Rabb sekalian alam!!! Ratri
hamil!!! Masya Allah…., setelah sekian tahun!!! Seketika aku
tersungkur sujud. Air
mataku meleleh. Kudekap kepala Ratri erat-erat.
Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kepala Ratri. Ia mendongak,
jemarinya menghapus air mataku.
"Mas menangis?" tanyanya retoris.
Aku mengangguk. Ya, aku menangis! Tangis syukur….
"Kok, periksa ke dokter nggak bilang-bilang? " protesku.
"Biarin, nanti nggak surprise …," katanya. Tiba-tiba aku merasa
bersalah. Sejak tahun ketiga pernikahan kami, aku tidak rajin mengikuti
tanggal-tanggal haid dan masa subur Ratri seperti dulu. Kudekap Ratri
makin erat.
Sejak hari itu, kesehatan Ratri menjadi perhatian utamaku. Aku sering
marah-marah kalau Ratri masih juga menulis sampai larut malam. Ya,
tiba-tiba aku menjadi sangat cerewet.
Sembilan bulan, lebih delapan hari. Rasanya hari itu tiba…, tadi pagi
Ratri sudah mulas-mulas. Katanya mulasnya dimulai dari punggung menjalar
sampai kedepan. Aku ribut setengah mati. Kuraih gagang telpon. Aku
menelpon seorang
teman untuk membawa mobil kerumah. Ratri masih mengeluh
mulas-mulas. Tiba-tiba keluar cairan, oh… air ketubanya sudah pecah.
Di rumah sakit aku begitu gelisah. Bapak-ibu yang menungguiku cuma
menggeleng-geleng kepala. Maklum anak pertama, begitu kata ibu. Ya,
Allah… entah kenapa aku tiba-tiba merasa ketakutan yang luar biasa. Ya
Allah, selamatkan istri dan anakku…, bisikku berulang kali.
"Bapak Syaiful Bahri?" seorang dokter keluar dari ruang bersalin.
"Ya…, saya, Dokter…," sahutku cepat. Kuhampiri dokter itu.
"Ada sedikit kelainan, harus dioperasi… Suster, tolong bimbing Pak
Syaiful untuk mengisi formulir ini…" kata dokter itu.
Aku tersentak kaget! Operasi? Astaghfirullah. ..
"Tapi…, istri saya tidak apa-apa’kan dokter??" tanyaku khawatir.
Dokter itu terdiam. "Berdo’alah …," katanya pelan. Kugigit bibirku
erat-erat. Allah…, selamatkan isri dan anakku.. Kuambil wudhu dan
shalat di musholla.
Kuhabiskan gelisahku disana.
Tiba-tiba kudengar suara tangis bayi. Anakku…,: desisku perlahan. Aku
seperti dituntun nuraniku. Bergegas keluar musholla.
"Bapak Syaiful Bahri…"
"Ya, Dokter…"
"Selamat, bayinya perempuan, sehat, tiga setengah kilo, cantik seperti
ibunya…" kata dokter itu.
"Alhamdulilah. .." desisku berulang-ulang.
"Istri saya dokter?"
Dokter itu terdiam. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menjalar disegenap
hatiku. Kutatap mata dokter itu dengan tatapan penuh tanya. Tiba-tiba
dokter itu menepuk bahuku perlahan, sementara kepalanya pun menggeleng
perlahan pula.
Mulutku terngaga seketika.
"Ma’afkan .., saya sudah berusaha. Tapi Tuhan menghendaki lain…,"
katanya. Air mataku berloncatan tanpa bisa dibendung. Dokter itu
perlahan membimbingku masuk ke ruang bersalin. Aku menurut saja tanpa
rasa.
Sosok tubuh ditutup kain putih terbaring. Perlahan dokter itu membuka
kain
penutup itu. Inalilahi wa innailayhi raji’uun… Wajah Ratri
terlihat pucat. Tapi bibirnya tersenyum manis…, manis sekali. Kudekap
kepala Ratri erat-erat, tangisku tak tertahankan.
"Sabar… sabar… pak…," hibur dokter itu." Suster, bawa kemari anak
Bapak Syaiful Bahri…," katanya lagi.
Seorang bayi mungil yang masih merah disodorkan dihadapanku. Perlahan
kugendong dan kutatap ia. Dadaku masih sesak karena tangis. Kutatap bayi
merah itu dan Ratri berganti-ganti. Mereka begitu mirip. Matanya,
hidungnya, mulutnya…, Allahu Akbar !!!.
Rupanya ini hikmah itu, Ratri…, Allah memberi kesempatan padaku untuk
menemanimu selama empat tahun, untuk akhirnya memanggilmu setelah ia
memberikan gantinya…. .
Ya, Allah jangan biarkan hatiku berandai-andai, seandainya saja aku
tidak mengharapkan anak, jika itu membawa kematian Ratri…, ini semua
takdir-Mu, ya Rabbi….
Selamat Jalan Ratri……. ……… …..
Yathie
(hidup
ini hanya sekali, maka janganlah disia-siakan. Mari kita kembali kepada
niat yang baik InsyaAlloh akan mendapatkan yang baik pula…..Amien)
I did commit suicide
what was i thinking of?
how could I be that stupid?
I did something I had promised my self not 2 do it for the second time…
Tapi gue akui… gue ga tau lagi apa yang harus gue lakuin..
buah simalakama ada dihadapan gue..
Kalo gue crita ke nyokap, bokap gue mati
Kalo gue ga cerita, gue nunggu kematian nyokap gue
dan orang yang tadinya ingin gue minta pendapat ga percaya gue bisa punya masalah..
gue ga pernah minta apa2 dari orang lain…
tapi apa gue ga berhak minta saran.. minta nasihat.. apa kalo seorang ‘tong sampah’ kaya gue ga boleh curhat sama orang lain.. toh, gue cuma minta pendapat bukan minta dikasihani…
gue skarang ngerasa jadi orang yang dikasihani gara2 committing suicide, dan gue ga suka itu.
terlebih kalo gue dikasihani karena mereka pikir gue committing suicide cuma gara2 patah hati, GILA!!
MAN!! gue ga pernah nangis buat seorang cowo! gue ga akan bertindak bodoh cuma buat makhluk yang namanya cowo!Dan skarang mereka pikir gue patah hati buat si Legend? that’s what I call bullshit!!!
whatever, yang penting skarang gue mesti cari jalan kluar dari simalakama ini. gue sayang ortu gue, tapi gue juga ga bisa ngebiarin salah satunya terluka…
God, just give me more strength to face this mess, Hopefully my family still stick together at least until Lebaran’s over.
And for the Legend… man, u’re so wrong… I can’t believe my self for being blinded with all ur charm.
Uncategorized | Comment (0)It’s Not a Fashion Statement, It’s a Fucking Deathwish Lyrics- MCR
For what you did to me,
And what I’ll do to you,
You get, what everyone else gets,
You get a lifetime!
Let’s go!
Do you remember back then when we met,
You told me this gets harder,
Well it did!
Been holding on forever,
Promise me that when I’m gone, you’ll kill my enemies.
The damage you’ve inflicted, temporary wounds,
I’m coming back from the dead
Well I’ll take you home with me,
I’m taking back the life you stole.
We never got that far,
This helps me to think all through the night.
Bright lights that, won’t kill me now, or tell me how,
Just you and I, your starless eyes remain.
Hip hip hooray for me, you talk to me, but would you kill me in my sleep?
Lay still like the dead,
From the razor to the rosary,
We could lose ourselves,
And paint these walls in pitchfork red.
I will avenge my ghost with every breath i take,
I’m coming back from the dead and I’ll take you home with me,
I’m taking back the life you stole.
This hole you put me in,
Wasn’t deep enough,
And I’m climbing out right now.
You’re running out of places to hide from me.
When you go,
Just know that I will remember you.
If living was the hardest part,
We’ll then one day, be together.
And in the end we’ll fall apart,
Just like the leaves change in colors.
And then I will be with you,
I will be there one last time now.
When you go,
Just know that I will remember you!
I’ve lost my fear of falling…I will be with you,
I will be with you!
Ghost Of You–MCR
I never, said I’d lie and wait forever
If I died we’d be together now
I can’t always just forget her
But she could try
At the end of the world
Or the last thing I see
You are
Never coming home
Never coming home
Could I?
Should I?
And all the things that you never ever told me
And all the smiles that are ever ever…
Ever…
Get the feeling that you’re never
All alone and I remember now
At the top of my lungs in my arms she dies
She dies
At the end of the world
Or the last thing I see
You are
Never coming home
Never coming home
Could I?
Should I?
And all the things that you never ever told me
And all the smiles that are ever gonna haunt me
Never coming home
Never coming home
Could I?
Should I?
And all the wounds that are ever gonna scar me
For all the ghosts that are never gonna catch me
If I fall…
If I fall…
Down
At the end of the world
Or the last thing I see
You are
Never coming home
Never coming home
And all the things that you never ever told me
And all the smiles that are ever gonna haunt me
Never coming home
Never coming home
Could I….
Should I?
And all the wounds that are ever gonna scar me
For all the ghosts that are never gonna…..
Sebuah Pengakuan…
Mama, maaf aku tak sanggup mengatakan kejujuran ini padamu
Maaf kalau aku terlalu egois, hingga tak menyampaikan kebenaran ini padamu.
Namun percayalah aku melakukannya karena aku sangat menyayangimu
Aku tak ingin setetes airmata pun mengalir dipipimu
Aku tak sanggup jika harus melihatmu menderita
Ma, aku tahu engkau tidaklah bodoh, insting perempuanmu memnag benar
Empat tahun lalu, saat ku melakukan apa yang harus aku lakukan
Aku sudah tahu, Ma, namun saat itu aku masih berharap..
Papa bisa menyadari
Bisa mengerti bahwa dia telah menyakiti kita berdua dan tak hanya kita Ma…
Jujur,
Aku tidak bisa menerima semua ini
Aku mengerti sakitnya perasaanmu
Aku sangat mengerti
Hingga aku pun memutuskan
Untuk tidak menjalani pernikahan yang pernah kau rencanakan
Bukan karena aku tidak ingin Ma,
Tapi karena aku tidak ingin mengalami yang kau alami dan membuatmu lebih menderita
Aku sanggup mencintai seorang pria
Tapi aku tak sanggup hidup dengan seorang pria…
Aku tak sanggup hidup dalam ketakutanku, bahwa suatu hari aku kan mengalami apa yang engkau alami
dan tak ingin melihat lagi tetesan airmatamu jika hal itu terjadi padaku.
Namun Ma, engkau memang wanita yang tegar
Engkau tetap berada disamping papa
Walau apa yang terjadi…
Aku pun tak sanggup membenci papa
Kalian berdua sangat kucintai
Biarlah…
Mungkin sudah nasibku Ma,
Aku takkan pernah mengalami sebuah pernikahan
dan membuatmu tersenyum bahagia seperti senyummu saat kelulusanku
Aku sudah mati ma,
Jauh sebelum aku dewasa
Aku yang dihadapanmu, yang selalu menemanimu,
bukanlah anakmu yang dulu
Aku hanyalah sebuah bayangan masa lalu atas kerinduanmu
Aku bangkit dari kematian hanya untuk mu dan karena kasihmu
Tapi aku tahu suatu hari aku pun harus kembali…
Dengan jalan seperti aku pergi pertama kali…
Maafkan aku mama, demi cintaku…
Angin Part II
Angin… aku kembali… kau kembali menerbangkan seluruh jiwaku yang terombang ambing. Belajar bertahan seperti pohon yang tegar, tapi akhirnya aku kalah.
Bukan cinta yang kusesali angin… Tapi keluargaku..
Kenapa aku terlambat menyadarinya…
Harusnya aku sudah mengakhirinya saat itu, menghentikan derasnya aliran airmata ibuku.
Wanita agung yang telah mengandungku slama sembilan bulan.. Namun… aku memang teramat bodoh, aku teramat tak perduli atas semua kejadian dalam hidupku.
Aku terlalu sibuk dengan dunia yang kubangun dengan tembok tinggi yang membatasi aku dan orang-orang disekitarku.
Angin ku rindu belai lembutmu diatas gedung tinggi ini. Aku rindu uluran tanganmu untuk membawaku pergi.
Pada saat itu seandainya aku melangkah kedalam cahaya putih itu, mungkin aku tak perlu berada disini.
Angin… biar kali ini aku yang menemanimu, terbang.. tinggi seperti balon berwarna warni yang kukirimkan padamu.. kali ini biar aku yang mengulurkan tanganku untuk menghampirimu…
Karena aku tak ingin berada disini…
Ketika semua mengkhianatiku
Semua adalah musuh dalam selimut
dan karena aku tak ingin melihat airmata ibuku
Biarkanlah aku pergi sebelum aku melakukan hal yang lebih bodoh, aku tak ingin jadi pembunuh … aku tak ingin membuat anak itu kehilangan ibunya walau aku pun tak mau kehilangan ibuku..
Tapi biarlah, toh, aku tak pernah ada didunia ini..
Kehadiran ku disini hanya karena kasih 4JJ pada ibuku.. namun 4JJ aku tak mungkin lagi berada disini, aku bukan aku yang dulu..
aku bukan manusia..
aku hanyalah sebuah bayangan yang kau hidupkan demi cinta seorang ibu pada anaknya telah mati… biar kali ini si anak benar-benar mati.
Lost In Space —(lupa penyanyinya, maaf ;p)
Sometimes, I get tired of this me first attitude
You are the one thing, that keeps me smiling
That’s why I’m always wishing hard for you
‘Cos your life shines so bright
I don’t feel no solitude
You are my first, star at night
I’d be lost in space without you
(Chorus)
And I’ll never lose my faith in you
How will I ever get to heaven, if I do
Feels, just so fine
When we touch the sky me and you
This is my idea of heaven
Why can’t it always be so good
But it’s alright, I know your out there
Doing what you’ve gotta do
You are my soul satellite
I’d be lost in space without you
(Chorus)
And I’ll never lose my faith in you
How will I ever get to heaven, if I do
(Repeat chorus)
I’ll never lose my faith in you
I’ll never lose my faith in you