Kacamata Kaca (sebuah ironi)

December 17th, 2006

Kaca: "Seandainya aku dapat terlahir kembali, aku tetap akan memilih untuk menjadi buta karena dalam kegelapanku aku dapat memahami banyak hal. Pia mengajariku untuk menjadi tegar atas pilihan hidup yang dipilih, ayah mengajariku untuk tetap mencintai hidup setelah kematian ibu, dan Si kecil (putra Pia) mengajariku bahwa hari esok adalah harapan. Semua itu yang ibu harapkan untuk dapat kupelajari."

Kaca, seorang gadis tuna netra berusia 24 tahun adalah pribadi yang tidak pernah punya keinginan atau ambisi lebih dalam menjalani hidup. Dia cukup puas menjalani hari-harinya dengan memakai kacamata hitam sambil duduk di taman kota sembari memberi makan burung-burung di taman tersebut.

Hengky Yusuf adalah seorang sutradara sinetron berusia 39 tahun yang ambisius. Keinginannya yang terbesar adalah “naik kelas” menjadi seorang sutradara film layar lebar. Tekanan untuk melaksanakan ambisi itu terasa semakin menghimpit seiring dengan bertambahnya umur Hengky ditengah-tengah arus para sutradara muda yang sudah lebih dulu berhasil dibanding dirinya.

Pia, adik perempuan Kaca, adalah seorang remaja gadis berumur 19 tahun yang berambisi menjadi aktris terkenal. Tapi bakat aktingnya yang pas-pasan hanya bisa membuat Pia menjadi figuran kecil yang numpang lewat.

Karena kondisi keluarga yang miskin dan harus membayar biaya rumah sakit ayah mereka yang terserang stroke, maka Kaca harus ikut membantu mencari uang tambahan. Kesempatan itu datang ketika sebuah film yang akan disutradarai Hengky membutuhkan banyak figuran untuk berperan menjadi orang-orang buta karna cerita nya mengambil setting di sebuah panti tuna netra.

Tanpa membuang waktu, Pia ‘memaksa’ kakak nya untuk ikut mendaftar menjadi figuran di film tersebut. Tapi nasib berbicara lain ketika tanpa sengaja Kaca masuk ke ruang casting utama yang dikhususkan hanya untuk pemeran-pemeran penting.

Hengky yang melihat gerak-gerik Kaca menjadi begitu terpesona melihat betapa miripnya Kaca berperan sebagai seorang buta. Hengky belum sadar bahwa Kaca memang benar-benar seorang tuna netra.

Tanpa pikir panjang, Hengky pun mengangkat Kaca sebagai pemeran utama dalam film nya. Saat itu juga segala sesuatunya berputar cepat dalam kehidupan gadis sesederhana Kaca. Apa yang akan terjadi dengan karir akting nya yang sangat mendadak itu? Bagaimana Pia, sang adik, menyikapi nasib mujur yang justru diterima oleh kakak nya?

Cerita ini menjadi sangat menarik karna pada akhirnya, semua orang yang berinteraksi dengan Kaca, akan dapat melihat segala sesuatu dari sudut pandang kaca mata seorang tuna netra seperti Kaca. Dan saat itulah mereka akan menyadari, bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dalam hidup dibanding kesuksesan karir, popularitas dan ambisi yang berlebih.

http://www.an.tv/