Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

June 23rd, 2007

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Forwarded message from karin

Soeharto Anaknya Siapa???

June 20th, 2007

Pada suatu hari Tutut, anaknya Soeharto, lewat di jalan tol di Jakarta.
Penjaga Tol: "3000 rupiah".
Bu Tutut yang emangnya ngak punya uang seribuan mengeluarkan uang 50 ribu rupiah langsung saja menyodorkan tuch uang.
Penjaga Tol: "Ini Bu, kembaliannya."
Bu Tutut: "Sudah…simpan saja buat keluarga anda."
Penjaga tol merasa senang karena menerima 47 ribu rupiah dan langsung berterima kasih kepada Tutut.

Setelah
beberapa jam Tommy dateng melewati jalan tol tersebut. Karena mereka
tuch anaknya Soeharto, ngak punya uang receh, Tommy mengeluarkan uang
20 ribuan.
Penjaga Tol: "Ini Pak, kembaliannya 17 ribu."
Tommy: "Sudahlah, simpan aja buat sekolah anak anda."
Penjaga langsung memasukan kembalian itu ke kantongnya dan berterima kasih banyak ke Tommy.

Setelah beberapa jam Soeharto dengan mobilnya lewat jalan tol.
Soeharto mengeluarkan uang 5000 rupiah dan disodorkan ke penjaga tol. Soeharto menunggu
uang kembaliannya itu dan setelah menunggu 5 menit, ditanyanya kepada penjaga tol
Soeharto: "Lho, mana uang kembalian saya ?"
Penjaga
Tol: "Ah Bapak, masa uang 2000 rupiah aja dibalikin. Tadi bu Tutut dan
pak Tommy lewat kembaliannya 47 ribu dan 17 ribu aja diberikan ke saya,
masa Bapak yang 2000 aja minta kembalian?? "
Soeharto: "Tunggu dulu mas !! Anda tau sapa Tutut dan Tommy??"
Penjaga Tol dengan cekatan menjawab: "Yach tahu Pak! Pertanyaan gampang tho, jelas Tutut dan Tommy tuh Anaknya Presiden."
Soeharto: "Pinter kamu, tahu mereka anak Presiden. Nah sedangkan saya kan cuma Anak Petani !! Sekarang, mana kembalian saya??"
Penjaga Tol : !@$@!$!%!^$@^

Menunggu

June 17th, 2007

Tak sekali aku menunggu…
tiap kali aku menunggu
di taman.. di stasiun… di keramaian…
pernah ku menunggu

Dia minta aku menunggu…
sedang aku tak punya waktu…

ingin aku menunggu…
tapi sayang waktu tak menungguku

andai waktu lebih memihakku
sayang…seribu kali sayang

biar ku coba hapus jejakku
agar dunia tak pernah mengingat

bagai angin yang berhembus

jangan pernah berharap… karena harapan cuma ilusi

Sayonara….

June 16th, 2007

Utada Hikaru - Flavor of Life

Arigatou to kimi ni iwareru to nandaka setsunai
sayonara no ato no tokenu mahou awaku horonigai
The flavor of life

tomodachi demo koibito demo nai chuukan chiten de
shuukaku no hi wo yumemiteru aoi furu-tsu
ato ippo ga fumidasenai sei de
jirettai no nan notte? baby~

arigatou to kimi ni iwareru to nandaka setsunai
sayounara no ato no tokenu mahou awaku horonigai
The flavor of life

amai dake no sasoi monku ajike no nai doku
sonna mono ni wa kyoumi wa sosorarenai
omoitoori ni ikanai toki datte
jinsei suteta mon janai tte

doushi.ta no? to kyuu ni kikareru to “uun. nandemo
nai”

sayounara no ato ni kieru egao watashi rashikunai
sinjitai to negaeba negau hodo nandaka setsunai
“aishi.teru yo” yori mo “daisuki” no hou ga kimi
rashii janai?

The flavor of life

wasurekakete ita hito no omoi wo totsuzen omoidasu
koro

furitsumoru yuki no shirosa wo omou to sunao ni
yorokobitai yo

daiyamondo yorimo yawarakakute atatakana mirai
teni shi.tai yo kagiri aru jikan wo kimi to
sugoshi.tai

“arigatou” to kimi ni iwareru to nandaka setsunai
sayounara no ato no tokenu mahou awaku horonigai
The flavor of life

Last Thing 2 Say and Cry

June 16th, 2007

VERTICAL HORIZON LYRICS


"Best I Ever Had (Grey Sky Morning)"

So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I’m here to stay
Love can be so boring

Nothing’s quite the same now
I just say your name now

[Chorus]
But it’s not so bad
You’re only the best I ever had
You don’t want me back
You’re just the best I ever had

So you stole my world
Now I’m just a phony
Remembering the girl
Leaves me down and lonely

Send it in a letter
Make yourself feel better

[Chorus]
But it’s not so bad
You’re only the best I ever had
You don’t need me back
You’re just the best I ever had

And it may take some time to
Patch me up inside
But I can’t take it so I
Run away and hide
And I may find in time that
You were always right
You’re always right

So you sailed away
Into a grey sky morning
Now I’m here to stay
Love can be so boring

What was it you wanted
Could it be I’m haunted

[Chorus]
But it’s not so bad
You’re only the best I ever had
I don’t want you back
You’re just the best I ever had
The best I ever had
The best I ever

Alasan

June 16th, 2007

AKu sudah berjanji pada seseorang untuk menjelaskan apa yang membuat aku memintanya membenciku.

Tapi sejujurnya aku tak tau apa yang harus aku katakan.

Yang aku tau aku tak ingin membuatnya kecewa. Aku tidak ingin membuatnya terluka kembali dan aku tidak ingin dia merasa tidak bahagia.

Aku tahu dia sedang menyusun kembali kepingan hatinya.
Aku tahu aku tidak berhak meminta lebih darinya.
Tapi aku tak kuasa …

Kapan dimulai aku tak tahu
Tapi yang ku tahu aku harus menghentikannya

Gomenasai…
Gomenasai aishiteru yo

….

Now… there’s enough reason for u 2 hate me.

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

June 10th, 2007

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat
telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah
secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun
Ibnu Abbas
telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia
ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW)
mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas
ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah),
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah
nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur
sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang
diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari
kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak
amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan
yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur
maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga
yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam
keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan
anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila
memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk
mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula
seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang
luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan
suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki
seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang
anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah
SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak
muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu
yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah
melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat,
ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu
menggendongnya" . Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah
aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku
ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari
hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata
tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun
minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa
anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah.
Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib
kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap
keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang
sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila
kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman
dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya
Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada
disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi
halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah
bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu
berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan
pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya
dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena
doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan
menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan
kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah
orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu
agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk
belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia
belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya
kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi
hatinya.

Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang
"hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat
iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama
Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh,
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi
hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi
dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun
cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu
pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya,
maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia
sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan
yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak
mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua
semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya
diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa
takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk
segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang
dijanjikan
Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator
kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki
diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’
mungkin membaca doa, yaitu doa yang paling sering dibaca oleh
Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid
dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan
dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke
tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu
hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh,
teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat
untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam
genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja
sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil
aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk
memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu
bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah
sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal
soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari
puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk
surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita
tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Rasulullah, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan
kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau
ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga
tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan
apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk
surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya
bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat
Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

———
Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana

Benarkah kau tidak akan pernah meninggalkanku?

June 6th, 2007

Dnangelniwa
http://groups.yahoo.com/group/KisahKehidupan/message/2963;_ylc=X3oDMTJxdWJnc2JlBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI3Njc4MTAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTM2MzgyBG1zZ0lkAzI5NjMEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTE2MzE1OTcyNQ–
"Namaku
Linda & aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah
pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat &
mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu
menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini
adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi & ibuku, Yasmine
Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan & kata
ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk kedalam
ruangan & saat itu ia tahu, inilah wanita yang akan menikah
dengannya. Itu menjadi kenyataan & kini mereka telah menikah selama
40 tahun & memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah
& memberikan mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia & selama bertahun-tahun telah menjadi orang
tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih & kebijaksanaan.

Aku
teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu
beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar
murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka
mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang
obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang
terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi
pulang dari kantor. Kata ibuku,"Mama tak akan pernah meninggalkan papa
sendirian".

Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku.
Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita aku harus patuh pada
suamiku & selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin,
kaya, sehat maupun sakit. Seorang wanita harus bisa menjadi teman hidup
suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu
hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah
memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai
suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang
tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi & menjadi
lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak
berfungsi lagi, & dia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat
tidur.

Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang
lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak
hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak
pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari
ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku.
Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, & ketika ibuku bertanya
,"untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua & jelek sekali".

Ayahku
menjawab, "aku ingin kau tetap merasa cantik". Begitulah pekerjaan
ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan &
kasih sayang, para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya.
Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak
pernah pudar.

Suatu
hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,". ..kau tahu, Linda. Ayahmu
tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?" Aku menggeleng
& ibuku melanjutkan, "karena aku tak pernah meninggalkannya. .."

Itulah
kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi & ibuku, Yasmine Ghauri,
mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab,
kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, & cinta
kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari
kehidupannya.

Buat ku… akan ku berikan seluruh hidupku, cinta dan hatiku buat satu yang terkasih. hanya aku tak tau dimana bisa kutemukan dirinya.

Benarkah kau tidak akan pernah meninggalkanku?

June 6th, 2007

Dnangelniwa
http://groups.yahoo.com/group/KisahKehidupan/message/2963;_ylc=X3oDMTJxdWJnc2JlBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI3Njc4MTAEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MTM2MzgyBG1zZ0lkAzI5NjMEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTE2MzE1OTcyNQ–
"Namaku
Linda & aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah
pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat &
mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu
menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini
adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi & ibuku, Yasmine
Ghauri. Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan & kata
ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk kedalam
ruangan & saat itu ia tahu, inilah wanita yang akan menikah
dengannya. Itu menjadi kenyataan & kini mereka telah menikah selama
40 tahun & memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah
& memberikan mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia & selama bertahun-tahun telah menjadi orang
tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih & kebijaksanaan.

Aku
teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu
beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar
murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka
mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang
obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang
terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi
pulang dari kantor. Kata ibuku,"Mama tak akan pernah meninggalkan papa
sendirian".

Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku.
Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita aku harus patuh pada
suamiku & selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin,
kaya, sehat maupun sakit. Seorang wanita harus bisa menjadi teman hidup
suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu
hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah
memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai
suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang
tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi & menjadi
lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak
berfungsi lagi, & dia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat
tidur.

Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang
lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak
hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak
pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari
ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku.
Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, & ketika ibuku bertanya
,"untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua & jelek sekali".

Ayahku
menjawab, "aku ingin kau tetap merasa cantik". Begitulah pekerjaan
ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan &
kasih sayang, para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya.
Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak
pernah pudar.

Suatu
hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,". ..kau tahu, Linda. Ayahmu
tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?" Aku menggeleng
& ibuku melanjutkan, "karena aku tak pernah meninggalkannya. .."

Itulah
kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi & ibuku, Yasmine Ghauri,
mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab,
kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, & cinta
kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari
kehidupannya.

Buat ku… akan ku berikan seluruh hidupku, cinta dan hatiku buat satu yang terkasih. hanya aku tak tau dimana bisa kutemukan dirinya.